Friday, July 13, 2018

RAPP Riau Memadukan Upaya Konservasi Gajah Dengan Pencegahan Kebakaran

Image: Unsplash
Keanekaragaman fauna di Sumatra terkenal sangat langka. Salah satu yang terkenal adalah Gajah Sumatra. Gajah termasuk jajaran fauna yang turut mempercantik pulau di ujung barat Indonesia ini. Namun, jumlah populasi gajah Sumatra semakin hari semakin menurun. World Wide Fund for Nature (WWF) memperkirakan, hanya ada 2.400-2,800 ekor Gajah Sumatra yang tersisa di alam bebas, dan hanya ada sekitar 100 ekor yang hidup di pulau Sumatra itu sendiri.

PT Riau Andalan Plup & Paper (RAPP) adalah unit operasional APRIL Grup. PT RAPP memiliki cara untuk pencegahan kebakaran yaitu memadukan upaya konservasi gajah dengan perlindungan terhadap bahaya api di lahan dan hutan. PT RAPP menghasilkan pulp sebanyak 2,8 juta ton dan kertas sebesar 850 ribu ton dalam setahun.

Kemampuan PT RAPP dalam mencegah kebakaran yakni dengan menggabungkan dengan langkah perlindungan terhadap gajah. PT RAPP segera melakukan upaya untuk melindungi gajah Sumatra dengan cara mereka menampung empat ekor gajah dari Balai Konservasi Gajah Sebanga milik pemerintah Lampung. Akhirnya, gajah-gajah tersebut hidup secara alami di habitatnya dengan lahan seluas sekitar 3.000 hektare.

Gajah-gajah di area konservasi PT RAPP dirawat dan diberi perlindungan sehingga mampu berkembang baik dengan baik. Pada tahun 2009, seorang anak gajah betina lahir yang bernama Carmen. Dua tahun setelah itu, lahir pula anak gajah jantan bernama Raja arman.

RAPP Riau menggulirkan beragam upaya pencegahan kebakaran bersama dengan program konservasi gajah yang mereka jalankan. Melakukan pemantauan rutin di area konservasinya agar api tidak berkobar melahap hutan dan lahan. Tetapi, salah satu penyebab sulitnya praktik pemantauan sering tidak dilakukan yaitu area yang sulit ditembus. Kemudian, banyak kawasan yang tidak bisa dilalui dengan jalan berat.

RAPP Riau melakukan upaya antisipasi konflik antara gajah dan manusia. Sebab, penurunan populasi gajah yang sering terjadi akibat konflik dengan manusia. Banyak kasus yang memperlihatkan gajah mati terbunuh ketika turun ke area perkebunan dan pemukiman penduduk. Gajah-gajah tersebut tewas karena racun atau bahkan sengaja dibunuh karena dirasa mengancam keselamatan.

Pada tahun 2005, RAPP bekerja sama dengan WWF dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menggulirkan upaya sebagai Elephant Flying Squad atau Skuat Gajah Terbang. Menggunakan Skuat Gajah Terbang, RAPP mencegah konflik antara manusia dan gajah terjadi. Mereka melakukannya dengan cara patroli mendatangi sejumlah area yang rawan dilintasi gajah liar.

Pemanfaatan kegiatan patroli rutin Skuat Gajah Terbang, RAPP Riau melakukan perlindungan lahan dan hutan dari bahaya kebakaran. Skuat Gajah Terbang saat menemukan titik api mampu melakukan respon seperti memadamkan atau menjaga agar tidak meluas. Mereka juga melakukan kontak ke tim pemadam kebakaran RAPP agar segera beraksi.

Kegiatan ini terbukti berdampak positif. Konflik manusia dengan dengan kematian gajah liar menurun. Patroli yang dilakukan berhasil menekan tingkat kebakaran yang ada di area konsesi RAPP. Dan itulah cara RAPP Riau memadukan upaya konservasi gajah dengan pencegahan kebakaran.


EmoticonEmoticon